Salah satu kebiasan khas dari Gus Dur adalah suka melemparkan joke atau anekdot. Hampir setiap orang yang pernah dekat dengan Gus Dur menyimpan kenangan seputar humor yang dilontarkan Gus Dur. Begitulah kesan yang dapat dan paling di ingat oleh kita semua.
Berikut ini beberapa komentator politik dan selebriti :
“Bagi saya, beliau semacam guru yang sering membimbing saya, mentor, dan saya juga sering berkonsultasi dengan beliau,” kata Prabowo yang datang melayat ke rumah duka Gus Dur, Jl Warung Sila X, Ciganjur, Jakarta Selatan
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Adnan Buyung Nasution menyatakan Gus Dur / Abdurrahman Wahid adalah tokoh yang tidak ada tandingannya. Gus Dur dapat menempatkan hubungan antara agama dan negara pada tempatnya. Selain itu, Gus Dur juga dapat menjaga kerukunan umat beragama. Bahkan Gus Dur mengakui sejumlah agama seperti Kong Hu Cu dan Tionghoa. “Gus Dur membuka pintu bagi Tionghoa untuk bisa hidup bermasyarakat,” kenangnya. “Beliau cendikiawan paling top dan tidak ada tandingannya.”
Seniman sekaligus aktivis Ratna Sarumpaet menilai bahwa Mantan Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pahlawan budaya dan reformasi. Ia menambahkan, di matanya Gus Dur merupakan tokoh pemersatu bangsa dan sangat menghormati keberagaman warna kulit, agama maupun golongan.
Menurut Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Batusangkar itu, Gus Dur adalah sosok pemimpin yang kharismatik setelah Bung Karno, Bung Hatta dan Agus Salim. Perjuangannya untuk rakyat tertindas, lahir dari nuraninya tanpa mengharapkan suaru imbalan dibalik upaya yang dilakukanya.
Artis Dorce Gamalama, mengaku sempat menengok Gus Dur sebelum wafat saat masih dirawat di RSCM, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Saat itu dia melihat Gus Dur tidur dengan nyenyak sambil memeluk bantal guling. Di mata Dorce, Gus Dur adalah sosok yang luar biasa. “Saya betul-betul kehilangan sosok beliau, dia segalanya buat saya, guru, ulama, penasihat saya,” ujar Dorce. Dorce mengungkapkan bahwa Gus Dur-lah yang mendukung dan membebaskan dirinya untuk memilih kepribadian yang dijalaninya sekarang ini. “Dia juga membela saya di saat memilih, apa saya akan jadi perempuan atau laki-laki pada saat itu,” kenangnya.
Kekaguman Leony kepada Gus Dur tak hanya karena sosoknya yang terkesan nyeleneh, tetapi juga karena jasanya dalam mengakui keberadaan masyarakat Tionghoa di Tanah Air. “Hasilnya bisa dirasakan sekarang, bagaimana perayaan Imlek dan kesenian Tionghoa kini bisa muncul di televisi,” kata bintang film Identitas itu.
Bagi Inul, Gus Dur adalah sosok yang ikut berperan besar dalam perjalanan kariernya di pentas musik dangdut Tanah Air. Saat menjabat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Dur-lah tokoh yang memberikan dukungan ketika desakan penolakan datang menghampirinya. “Beliau pernah bilang sama saya, kamu enggak usah takut kalau kamu benar. Jadi, sampai sekarang saya berani kalau benar,” ujar pedangdut “Goyang Ngebor” itu.
Nama:
KH Abdurrahman Wahid [ Gus dur ]
Lahir:
Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.
Orang Tua:
Wahid Hasyim (ayah), Solechah (ibu).
Istri :
Sinta Nuriyah
Anak-anak :
Alisa Qotrunada Zannuba Arifah Anisa Hayatunufus Inayah Wulandari
Pendidikan :
• Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
• Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
• Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)
Karir
• Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
• Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
• Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
Penghargaan
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)
Gus Dur meninggal setelah dirawat selama lima hari di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM). Gus Dur meninggal pukul 18.45, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjenguknya. 4 Agustus 1940 – 30 Desember 2009 dalam umur 69.
Menurut rencana, pihak keluarga akan memberangkatkan jenazah pada besok pagi sekitar pukul 07.00 ke Bandara Halim Perdana Kusuma. Selanjutnya jenazah Gus Dur segera diterbangkan ke Jombang, Jawa Timur untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di Ponpes Tebu Ireng sesampainya di sana.
Firasat wafatnya Gus Dur sudah terasa sejak Gus Dur berziarah terakhir ke makam kakek dan ayahnya di Tebu Ireng, Jombang. Adik kandung Gus Dur KH Salahudin Wahid yang juga pengasuh Ponpes Tebu Ireng mengaku dirinya sudah diberi sinyal dan firasat saat Gus Dur ke Jombang.
Gus Solah bercerita pada kami beberapa hari lalu di kediamannya. Gus Solah kaget dan heran tiba-tiba Gus Dur bilang, ‘dik mengko tanggal 31 jemputen aku nang kene’ (Dik, nanti tanggal 31 jemput saya di sini,” kata salah satu ketua PP GP Ansor Maskut yang mendapat cerita dari Gus Solah.
Sejumlah tokoh nasional juga nampak hadir di rumah duka. Di antara Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Budiono, Mantan presiden Megawati dan BJ. Habibi mendatangi kediaman Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan. Terlihat juga Mantan wakil Presiden Try Sutrisno, Prabowo, Alwi Sihab, Sri Mulyani, dan Adnan Buyung Nasution. Beberapa wakil kedutaan besar dari negara tetangga, para tokoh agama dari berbagai agama.
Sejak pukul 21.00, Rabu 30 Desember 2009, masyarakat berkumpul. Menggelar ‘Tabur Bunga dan Doa Bersama’ mengenang dan mengiringi wafatnya KH Abdurrahman Wahid di RSCM Jakarta 30 Desember 2009 petang. Tumbukan bunga terus menggunung dan nyala lilin semakin banyak di areal Monuman Gubernur Suryo. Massa berkumpul, memanjatkan doa dan memberikan penghormatan atas meninggalnya Gus Dur.
Aksi ini mereka lakukan untuk menghormati kepergian Gus Dur, sebagai kiai besar, ulama dan guru bangsa yang mereka cintai. “Sungguh kami merasa kehilangan dengan wafatnya Gus Dur,” kata Liem Tiong Soek. “Bukan hanya sebagai mantan presiden, kiai, ulama besar. Namun, sebagai guru bangsa yang menjadi panutan dan tauladan kami.”
Puluhan warga Yogyakarta menyalakan lilin dan menggerek bendera setengah tiang atas wafatnya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Cahaya lilin, ujar juru bicara mereka, untuk mengingatkan masyarakat mengenai peran Gus Dur.
Kami segenap manajemen Duniacyber.com mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya dan mewakili umat lintas agama dan lintas suku etnik :
Selamat jalan Gus Dur May God be with you. Semoga Tuhan Yang Maha Esa mengampuni dosa dan meringankan langkah Gus Dur. Anda lah presiden di awal-awal reformasi, membuka jalan menuju masyarakat madani. Terima kasih Gus!


Recent Comments